Berita & Artikel

Konsumsi Cairan Isotonik Dengan Tepat

Posted 27.02.2014 | by Admin Web| | Posted in Category Artikel | Sub Category Health

Konsumsi Icairan isotonik memang sering dilakukan terlebih setelah beraktifitas penuh. Minuman isotonik hanya boleh diminum setelah berolahraga selama 60 menit atau lebih. Minum cairan isotonik berlebihan menyebabkan penambahan kalori yang tidak perlu pada tubuh dan memperberat kerja ginjal.

Dokter spesialis kedokteran olahraga Rachmad Wishnu Hidayat mengatakan bahwa minuman isotonik disebut sports drink. Ini menandakan minuman ini tidak dianjurkan diminum di luar kegiatan olahraga. Minuman yang mengandung gula dan garam dengan tekanan osmotik sama dengan cairan darah dalam tubuh ini berfungsi sebagai penambah energi dan pengganti cairan serta elektrolit yang hilang akibat berolahraga.
”Konsumsi yang tidak tepat hanya menambah kalori dari kandungan karbohidrat yang berakibat menambah berat badan,” kata Wishnu saat peluncuran buku Petunjuk Praktis Pemenuhan Kebutuhan Cairan dalam Latihan Fisik, Selasa (25/2), di Jakarta.

Wishnu menambahkan, mereka yang sedang diet tidak perlu khawatir mengonsumsi minuman isotonik asal berolahraga lebih dari 60 menit serta diimbangi dengan menakar asupan kalori dari makanan sehari-hari.

Namun, ia mengingatkan, minuman isotonik jika dikonsumsi berlebihan akan memperberat kerja ginjal. Umumnya, minuman ini ditambah zat perasa atau pewarna yang berdampak pada kesehatan. ”Zat-zat ini dikeluarkan melalui ginjal sehingga memperberat kerja ginjal. Jika berolahraga kurang dari 60 menit, minum air putih saja,” ujar Wishnu.

Dokter ahli ginjal Rumah Sakit Sardjito, Yogyakarta, Bambang Djarwoto, mengatakan, ”Survei menunjukkan, banyak orang mengonsumsi minuman isotonik bukan setelah olahraga. Mereka mengonsumsi kapan saja.”

Berbeda dengan minuman isotonik, minuman berenergi terbukti membahayakan dan memberatkan kerja ginjal sehingga tidak dianjurkan. Selama ini, masyarakat menganggap minuman berenergi dapat menambah tenaga saat bekerja, padahal minuman ini justru menjadi racun.

Bambang menjelaskan, minuman berenergi yang beredar di pasaran mengandung kafein yang cukup tinggi dan berdampak meningkatkan tekanan darah serta membuat jantung berdebar lebih cepat. Minuman ini juga mengandung taurin yang tidak mudah dikeluarkan dari tubuh oleh ginjal.

 

kompas.com

 
Halaman Sebelumnya